Luar Biasa Pemikiran Ra Mamak

Foto bersama Ra mamak, Prof. Malhum, Kabid SD bersama siswi dan kepala sekolah SMP Junior Hight School 


Sumenep -  Kiai Muda yang luar biasa, berwawasan global dan karismatik. Beliau adalah Dr.KH. Muhammad Shalahuddin A.Warist, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura.

Beliau hadir dan menjadi narasumber pada kegiatan halal bihalal dan Talksow Inspiratif dengan tema Transformasi Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital di selenggarakan oleh Komunitas Peduli Pendidikan (KPP) Sumenep bertempat di Aula HK Resto Jl Trunojoyo Sumenep Madura, Selasa, 28 April 2026, pagi tadi.

Menurut Ra Mamak, tantangan transformasi pendidikan tidak hanya berlaku di kalangan pesantren  akan tetapi semua secara global dialami semua negara. Yang menitikberatkan pada ilmu yang harus menjadi sebuah pondasi yang kuat di era globalisasi digital sekarang ini.

" Ilmu hari ini harus menjadi pondasi pradaban kita, tantangan transformasi hari ini menjadi sangat egoistik, ilmu sangat narsistik,ilmu berfikir tentang ilmunya,agama berfikir tentang agama itu sendiri, padahal kata sesepuh, tuhan itu tidak harus dibela,agama harusnya hadir untuk lebih bermanfaat kepada ummat" Kata, Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A.Warist, Pengasuh pondok pesantren annuqayah Guluk-guluk.

Selain itu, Kiai muda karismatik tersebut juga memberikan pesan bahwa transformasi bukan hanya persoalan alat akan tetapi lebih pada penggunaan,manfaatnya tetapi lebih pada mentalitas.

" Transformasi bukan persoalan alat, tetapi mentalitasnya," Ujarnya.

Beliau menambahkan, berkaitan dengan teknologi digital kata Ra mamak, karena kita sudah punya mentalitas ilmu seharusnya hal itu lebih bisa terserap. 

"Kalau kenyataannya digitalisasi dilingkungan pesantren itu begitu rendahnya, itu kenyataan lain. Itu yang harusnya dibongkar dari masyarakat pesantren itu sendiri." Tambahnya.

Bukan itu saja, menurut beliau tergantung kita melihat dari sudut pandang masyarakatnya, lebih kepada maksiat atau ilmu yang bisa mencerahkan ummat.

" Masyarakat pesantren itu melihat digitalisasi menuju maksiat apa menuju ilmu atau menuju pencerahan, ini kan hanya prangkat hanya wasilah. Dan wasilah itu dinamis, disetiap pradaban berbeda-beda "ungkapnya.

Ketua Komunitas Peduli Pendidikan Sumenep, Abd.Rahman, menilai bahwa hari ini dunia pendidikan mulai terjajah, kita  tidak bisa dilepaskan dengan dunia digitalisasi, dan bukan hanya guru saja,  tetapi murid juga mulai dibuat ketergantungan.

" Jujur dunia digital banyak sekali manfaatnya, tetapi juga banyak mudaratnya.,"jelas, Rahman dalam sambutannya.
Dirinya berharap, akan ada perhatian lebih dari semua pihak terlebih perhatian orangtua dalam mendampingi anaknya.

"Dan hari ini kita ditantang bagaimana hal tersebut bisa seimbang dan masa depan anak terjamin dengan tetap mengedepankan karakter dan pradaban."tambahnya.

Ia menilai, mendidik anak bukan hanya tanggujawab guru tetapi orangtua juga harus menjadi pendamping yang baik dalam keluarga. 

"Semua butuh senergitas agar dunia digital tidak menjadi malapetaka bagi kelangsungan hidup dan masadepan anak kita," harapnya.

Sementara, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Al Humaidy guru besar Universitas Islam Madura mengatakan bahwa kalau masalah pendidikan itu Sumenep begitu kompleks, ada banyak persoalan yang harus kita bahas dan kita carikan solusi. 

"Bicara pendidikan di Sumenep dinamikanya luarbiasa,bukan bicara daratan dan kepulauan, bukan bicara infrastruktur," Ucap, Guru Besar Universitas Islam Madura tersebut.

Beliau berharap, hal penting yang dapat dilakukan untuk membatasi dan menyelamatkan masa depan anak bangsa dengan membatasi penggunaan gawai , baik di sekolah maupun di rumah.

"Yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan anak bangsa yaitu melalui edaran pelarangan membawa gadget kesekolah untuk siswa." Tambahnya.

Acara Halalbihalal dan Talksow Inspiratif bersama KPP Sumenep begitu meriah.


Prof. Malhum juga sangat khawatir tentang perkembangan digital saat ini sangat bebas dan mengancam generasi muda terutama anak sekolah.

" Itu kenapa harus dilakukan karena sangat miris sekali dunia digitalisasi sekarang ini. Dan itu harus kita lakukan agar bagaimana kita bisa menyelamatkan anak dari ketergantungan teknologi,"tukasnya.

( Ar/ admin).

Post a Comment

Previous Post Next Post